Pasuruan Tanah Rantauku

Selamat datang di kota santri, begitu ucapan selamat dan slogan kota pasuruan, di sini aku mulai mengenal satu persatu teman baruku, aku mulai semuanya dengan getir, karena rasa yang dalam terhadap tanah kelahiranku “jember”. Tak mudah meninggalkan jember, karena bagiku jember bukan Cuma masalah geografis tapi juga melibatkan perasaan.

Hal pertama yang saya keluhkan dari pasuruan adalah hawanya yang panas menyengat menusuk segala ruang pori di kulitku, tapi itu hanya soal adaptasi lingkungan saja, toh orang– orang sini sangat responsif dan nyaman di ajak komunikasi, sebagai pendatang saya harus bersikap sopan, atau kalau perlu berlagak lugu, supaya tak terkesan angkuh. Teman – teman disini suka bercanda, nyaris tiap hari tawa riang keluar dari bibir bibir mereka, namanya saja anak muda.

Setiap malam selalu aku sediakan waktu untuk menikmati secangkir kopi, sebagai ritual merayakan kebebasan, sudah tiga kali aku pindah kosan, hanya karena kurang nyaman dengan kosan yang sebelumnya, atau mungkin saya butuh ruang sunyi untuk mengisi malam dengan membaca novel, menulis dan bahkan proses interaksi yang dalam dengan tuhan. Cie, cie,, kok bawa – bawa tuhan.
Hari demi hari aku lewati, pagi dan pagi lagi, aku nyaris tak mengerti dengan waktu selama ini sama sekali tak ada perempuan yang menggerakkan hatiku, apa mungkin aku masih terpenjara oleh kenangan – kenangan masa lalu saya di jember, pahit getir penuh geletar di tubuh ini jika ku ingat kembali kenangan di jember, bagaimana saling campak mencampakkan ketika manis telah sirna di raba. Hanya pahit bagai ampas kopi yang tanpa permisi selalu dilupakan.

Menguras peluh saban hari, kusam di pandang manis di canda, rona – merona lalu lalang kontainer keluar masuk gerbang, hanya ku pandang, esok pulanglah temui istri menunggu di kampung halaman, hay bapak pengemudi kontainer. Rona wajah yang kusam menjadi sedikit lebih manis di tanggal muda, hay anak muda teruslah bekerja, asal jangan lupa untuk apa dan siapa kau bekerja, kerjakan saja apa yang ada asal jangan lupa makna. *halah.

Tak lupa ku ucapkan terima kasih pada kakakku farid, ia yang telah membawa saya ke pasuruan, lelaki ganteng idola wanita itu, ya sebelas dua belaslah denganku, dia sebelas aku dua belas. Gantengan dia tapi manisan aku *ngawor. Berhubung tulisan ini sudah tak jelas arahnya, mungkin akan segera saya cukupkan, intinya hari paling asik itu ketika tanggal satu, detak debar di dada megalahkan isi genderang asmara ketika kita dihadapkan pada slip gaji. Oh ya esok kira – kira gajian berapa ya.?.

Pak Tua dan Spiderman.

Dulu waktu masih muda, saya sering terbang keliling dunia, pernah suatu waktu mampi ke amerika, perjalanan 10 menit, bertemu spiderman.” ujar bapak tua sambil menuangkan kopi pada teplek. Saya hanya tersenyum menyimak cerita bapak tua tersebut. Spiderman itu bisa bahasa jawa soalnya sering terbang ke jawa mampir ke rumah, saya buatkan kopi sachetnya bang iwan fals “top coffee”. Saya sering membicarakan perdamaian dunia dan politik internasional Dengan spiderman. Sama bocah koplak yang sempaknya diluar itu aku yo kenal le.. Batman Pak? Iya itu cah koplak. Hari menjelang malam saya pamit pergi dari kedai kopi. Pak tua itu menghela nafas kemudian meminum kopinya yang nyaris dingin. Wajahnya keriput, bajunya lusuh, tak tampak sama sekali bahwa ia pernah bertemu dengan tokoh kawakan dari negri paman syam macam spiderman dan batman. Entah pergulatan macam apa yang dilalui bapak itu sehingga memilih menghabiskan usia senjanya di kedai kopi. 

Jalan Yang Terpisah.

Memang sudah begini jalannya, kita saling melupakan dan meninggalkan, memang mudah bagimu  menghindari setiap ingatan tentang perjalanan kita, tapi aku, butuh bergelas – gelas kopi untuk menenangkan diri ketika ingatan mengembara saat denganmu.

Saat kita ke jember kita akan disambut dengan nasi pecel, lodeh, dan nasi goreng. Makanan sederhana yang biasa mampang di pinggiran jalan. Tapi kita tak akan kehilangan selera, karena semua itu tentang dengan siapa kita melewatinya, tentang kebersamaan yang terkenang sepanjang jalan. 

Malam itu kita tanpa sengaja bertemu, di sebuah pusat belanja, aku menyapamu dan kita saling melempar senyum. Hey bagaimana kabarmu fen? Alhamdulillah baik, kamu?. Aku juga baik. Lalu ia bergegas pergi, seorang lelaki memanggilnya dan menggandeng tangannya.

Feni adalah sahabat kecilku ketika sekolah dasar dan berlanjut sampai kuliah, ia sangat cerdas, berkali – kali ia mendapat rengking pertama disekolah, begitupun ketika kuliah, IPK juga diatas rata – rata.

Dulu kita sering melewati hari bersama, dan melewati hari dengan bergagi hati, tapi beginilah jalan cinta, bekerja dengan caranya sendiri, mengikuti arus takdir yang akhirnya harus ada yang tersakiti, tapi tak apa, memang tak ada yang pasti, dan tak ada yang dapat kuberi selain do’a, semoga bahagia selalu mengikuti.

Aku memandangnya sampai jauh, sampai batas jarak pandang, ia menoleh kebelakang dan tersenyum, aku melihat sehelai sorga disela lesung pipinya. Sungguh aku tak layak memilikinya.

Malam Yang Asing.

Aku melewati malam dengan kelewat asing, menikmati kopi di warkop sebelah kosan baru yang sepi, kesunyian ini membawaku pada kerinduan akan masa lalu, dimana saat malam tiba, aku berkumpul dengan teman – teman, ngopi, bakar ikan rame – rame, atau merayakan dengan kegilaan lainnya.

Sungguh malam yang korsa “tekor dan nelangsa”, bagaiman bisa aku jadi sebokek ini, kemana saja gajian yang kemarin. Aku membelanjakannya untuk hal yang kurang penting, yang tidak produktif, lagi pula kenapa aku jadi se-konsumtif ini. Sampai – sampi ngopi pun aku pakek uang receh. Penjualnya pakek senyum – senyum lagi, seolah mengejek. Biasa pak tanggal tua, ujarku sembari senyum jua.

Di sebelah saya ada seorang yang sedang bicara dengan gebetannya lewat hp, pakek sayang-sayangan pacaran gaya abg alay. Rasanya telinga ini inginku sumpal dengan kain. Semakin lengkap penderitaan ini, karena paketan juga ludes. 

Beginilah hidup, anggap saja apa yang terjadi saat ini sudah ditakdir sang kuasa sebelumnya, banyak hal yang keluar jauh dari rencanaku sebelumnya, tapi apapun itu hidup tetap berlanjut, entah sampai kapan tuhan meminjamkan usia ini.

Saat sendiri seperti ini aku jadi ingat kematian, tentang bagaimana nanti jika aku sudah di kebumikan, siapa yang menemaniku, benarkah siksa kubur itu ada, dan macam – macam yang mengerikan lainnya, kadang jika fikiran sulit dikontrol akan ingatan dimasa depan yang belum aku jalani, aku memilih beranjak pergi ke kamar dan tidur. Semoga tuhan masih bersedia meminjamkan usia sepanjang – panjangnya. Amin.

Beha di balik jendela. 

Mungkin suatu nanti kamu bahagia dengan yang lain, seperti perempuan – perempuan sebelummu yang lebih dulu meninggalkanku untuk memilih lelaki yang lain, berbahagialah.

Tak usah kau kenang aku, percuma. Mengenangku tak akan berarti apa-apa untukku. Kamu tetap milik orang lain. Meskipun aku yakin kau tak akan mampu melupakan sejarah saat pertama kali aku dengan gugup membuka behamu, sedang kau dengan tergesa – gesa membuka bajuku. darimu aku atau guna tangan dan buah dada, kenangkan yang itu saja. 

Hari berlalu aku menikmani senja di balik jendela kamarku, meratapi nasib dan menikmati secangkir kopi pahit meski tak sepahit menerima kenyataan kau telah menikah dengan lelaki pilihan orang tuamu, kau tak mampu menolaknya.

Senja sore hari di balik kaca jendela dengan kukuh membawaku pada masa lalu, saat aku dengan gugup membuka behamu. “tampak kaku” ujarku,  “tentu saja, beha baru” katamu. Ingatan selanjutnya segera aku usaikan dengan meneguk secangkir kopi, keburu dingin. Bukankah kopi dingin tak cukup mampu menyembuhkan hati yang sedang korsa, tekor dan nelangsa. 

Hidup terus berlanjut, kau telah beranak pinak, barangkali buah dadamu sudah layu untuk menyusui bayi kecilmu yang unyu, aku akan terus menyumbangkan doa untukmu, setelah gagal menyumbangkan sperma dalam rahimmu. Berbahagialah. 

Merawat Diri. 

Entah saya lupa ini foto tahun berapa, yang pasti saat itu saya masih culun dan unyu-unyu. Saat saya masih menggenggam erat impian saya yang kini telah berantakan, banyak hal yang saya sepelekan di usia 17-20 tahun yang saat ini justru saya di hadapkan pada hal itu. 

Ini sewaktu saya turun dari gunung, habis dari air terjun di jember. Sewaktu saya masih menjadi aktivis lingkungan. *uhuk.  Bukannya apa, saya aktif di organisasi pencinta alam karena ada perempuan yang saya incar, sebelum akhirnya buyar dan saya tak aktif lagi, tapi saya tetap mencintai alam dengan yang saya bisa, setidaknya saya tidak merusaknya. 

Saya mengagumi soe hoe gie aktivis yang mati di semeru, saya menyukai puisi-puisinya. Menyukai tulisannya. “lebih baik terasingkan dari pada menyerah pada kemunafikan” begitu salah satu pekikan kalimat dari soe hoe gie yang sampai saat ini masih saya pegang erat dalam jiwa saya. 

Saya tak ingin melewati hidup tanpa arti, tanpa memberi apa-apa pada kemanusiaan. Saya ingin membantu teman-teman saya, saya ingin membangunkan anak-anak di desa saya tentang pentingnya pendidikan, tak penting jadi apa, karena substansi dari belajar  ilmu pengetahuan adalah berbuat baik pada sesama. 

Saya sadar saat ini saya masih jauh dari impian saya, bahkan belum sedikitpun melangkah ke arah itu. Saya bukanlah pemimpi yang konsisten nyaris setiap malam impian saya ralat. Berserakan tak terbungkus dengan rapi, tapi bagi saya hidup mengalir saja, toh impian saya sederhana: merawat diri. 

Keramaian. 

Salam dua jari. *halah. 

Saya tak suka keramaian, seringkali menyendiri di dalam kamar, hanya sekedar bercumbu dengan secangkir kopi, kadang juga baca buku, kadang lho ya.. Nggak sering. 

Saya sendiri tak tahu nama-nama teman kos, meskipun kita saling bicara tapi aku tak tahu namanya siapa. Maklum aku jarang keluar kamar, kerap mengurung diri di dalam kamar. Sering diam, tapi kadang juga bisa cerewet jika menemukan lawan bicara yang pas dan nyambung secara fikiran. 

Keramaian adalah ruang yang tak pernah damai dalam hidup saya, saya tak suka keramaian, butuh kesunyian untuk menyelami kedamaian batin. Tapi tak sepenuhnya juga saya tak suka keramaiam, satu-satunya keramaian yang saya suka hanyalah bazar buku. Apalagi jika ada gadis unyu yang nimbrung melihat buku-buku, dia pasti pelajar. 

Pernah suatu ketika saya ingin punya patjar seorang gadis cantik yang cerdas, suka baca buku, dan bisa menerima saya apa adanya, terlebih dia banyak uangnya. Hihihi. Tapi selalu saja tuhan meluruskan niat saya, yang barangkali agak matrek ini. Perempuan seperti itu nggak ada. Barangkali ada, tapi saya saja yang kurang pergaulan. Kalaupun ada ya nggak mungkin juga pilih saya. Hihihi.

Pernah suatu ketika di sebuah keramaian saya sedang nongkrong dengan teman-teman, kemudian di sebelah kami ada gadis cantik dari universitas sebelah, dan kami bertaruh, saya harus berani berkenalan dan mendapatkan nomer handphone-nya. Saya yang kelewat gengsi dan pede karena ditantang teman, disisi lain saya tak pernah punya riwayat di tolak. Lantas saja saya menghampirinya untuk kenalan dan meminta nomer handphone, dan apa yang terjadi, dianya menolak berkenalan dan alasan nggak punya HP. Sungguh di depan banyak orang,  rasanya mak jleb, malunya itu lho. 😂😂

Sesekali kita memang perlu keramaian untuk bisa menyadari betapa sunyinya dampak dari sebuah sepi, sebuah kesendirian yang kadang-kadang kita pura-pura kuat melewatinya. Tjamkan itoe mblo. 

Reuni.

Ada manfaatnya juga saya sempat mengenyam pendidikan dasar di MI Jember,  disanalah awal mula saya bisa membaca dan menulis, tentu saja dengan pelajaran tambahan “omelan ibu”, dan saya juga bisa merasakan manfaatnya setelah tak sekolah lagi, yaitu reuni. 

Dalam reuni kita bisa nostalgia bareng, bercanda dan sebagainya yang sulit saya terjemahkan disini. Dan yang bikin saya terheran-heran ada temen perempuan yang dulu cantik sekarang biasa-biasa saja, terus yang dulu biasa – biasa sekarang cantik, secepat itukah evolusi paras wajah perempuan. 

Pernah reuni SD dan SMA,  sayang sekali tak pernah reuni SMP padahal aku sangat ngarep, sayangnya sudah putus komunikasi semua. Dulu pas SMP jarang sekali yang punya HP, hanya sebagian.

Saya yang dulu waktu sekolah paling muda, kecil, dekil, dan mungil. pas reuni teman-teman pada heran ternyata sekarang saya sudah besar. pasti nyesel ya dulu mencampakkan saya *mbatinku. 

Dalam setiap pertemuan seusai perpisahan yang panjang akan melahirkan haru yang canggung, begitulah. Ada juga yang tak pernah berubah, tetap saja suka ngelawak meskipun nggak lucu. Yang membuat lucu ya nggak lucunya itu, tapi tetap ngotot. 

Kadang saya ingin bisa berkumpul setiap hari dengan mereka yang pernah bersama dalam waktu yang sama “teman”. Tapi ada hal yang tak bisa kita hindari: perpisahan. 

Perpisahan adalah hal yang lumrah, sayangnya saya tak pernah menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi perpisahan. Konyolnya pula setiap perpisahan nyaris selalu tentang proses belajar yang selesai, dan bertemu teman baru di jenjang berikutnya, kemudian berpisah setelah lulus. Selebih dari itu perpisahan hanyalah tentang kepulangan menghadap tuhan dan rantau. 

Saya telah melewati semuanya, hati saya sudah terlatih untuk menghadapi perpisahan. Apapun itu perpisahan itu nggak enak, masih enakan sate ayam, ya kan?.